### Sinopsis Buku Pada cover belakang buku "Tragik Satu-Rasa Untuk Semua-Aku," Afrizal Malna menggambarkan perjalanan seni rupa Indonesia melalui berbagai periode penting, mulai dari masa kolonial hingga era postmodernisme. Pengantar buku ini memaparkan bagaimana ketiga platform utama—Lintas Media, Teater Kecil, dan Dewan Kesenian Jakarta—membuka spektrum identitas baru yang dikenal sebagai "Indonesia" dan "modern". Dalam konteks ini, karya seni rupa Indonesia yang dikumpulkan oleh Ibrahim Soetomo dalam pameran "Tata Bahasa dan Post-Kebenaran" menawarkan teks sebagai rupa, tanpa rekayasa visual. Soetomo menampilkan kolase dari 25 teks manifesto seni rupa Indonesia, yang mencerminkan perjuangan antara nasionalisasi dan modernisasi, serta isu-isu sosial dan budaya yang berubah seiring berjalannya waktu. Karya ini tidak hanya mengilustrasikan evolusi seni rupa, tetapi juga menjadi catatan sejarah tentang bagaimana seniman dan kurator berusaha menciptakan wacana baru dalam konteks yang selalu berubah. Melalui sinopsis singkat ini, pembaca dapat memahami bagaimana seni rupa Indonesia telah berkembang dan berinteraksi dengan berbagai dinamika sosio-politik, serta bagaimana pernyataan-pernyataan seni rupa tersebut mempengaruhi diskursus seni rupa modern dan postmodern di Indonesia.
Buku kumpulan esai afrizal malna ini merupakan rekaman pengembangan wacana wacana kuratorial seni rupa yang direkamnya di beberapa kota di Indonesia termasuk manca negara Wina Berlin Paris Zurich Bern Beijing Shanghai Tokyo