Buku berjudul Tenggelam Potret Nyai Maryam Sang Srikandi Darussalam ini bukan sekadar untaian narasi tentang seorang tokoh perempuan melainkan sebuah mozaik keteladanan yang lahir dari samudra keikhlasan dan samudra pengabdian Dalam diamnya Mbah Nyai Maryam telah berbicara dengan bahasa yang lebih luhur dari kata kata bahasa amal bahasa kesetiaan dan bahasa cinta sekaligus pembuktiannya terhadap perjuangan agama Islam Dalam kehidupannya Mbah Nyai Maryam menampilkan makna dari sabda Rasulullah Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya HR Ahmad Beliau meneguhkan makna itu dalam wujud nyata menjadi sandaran bagi perjuangan penopang bagi dakwah dan pelita bagi generasi penerusnya Sosoknya adalah cermin dari perempuan shalihah yang disebut oleh ulama sufi sebagai al mar ah al kamilah perempuan yang tidak hanya saleh secara pribadi tetapi juga menebar keberkahan di sekelilingnya Karya ini tidak sekadar biografi ia adalah perjalanan ruhani menyingkap tabir tentang bagaimana seorang perempuan mampu meneguhkan perannya sebagai ummun fi al akhlaq zawjatun fi al jih d wa murabbiatun fi al da wah seorang ibu dalam akhlak istri dalam perjuangan dan pendidik dalam dakwah Dalam arus zaman yang kian menyanjung popularitas di atas makna kisah seperti ini mengajarkan kembali nilai kesederhanaan Bahwa tidak semua yang tidak tampak berarti tidak besar justru di balik kesunyianlah keikhlasan menempati singgasananya Sebagaimana mutiara yang tak tumbuh di permukaan tetapi di laut yang terdalam Syarifah DR Fatimah Zain BSA M Pd I Istri Abuya Zain bin Hasan Baharun dan Dosen UII Darullughah Wadda wah Pasuruan