### Sinopsis Singkat Buku ini menyajikan kumpulan puisi yang diterbitkan oleh W. Haryanto, menggambarkan perjalanan jiwa dan refleksi hidup melalui pengalaman pribadi dan pengamatan sosial. Puisi-puisi dalam buku ini mengeksplorasi tema-tema seperti kehilangan, perjalanan waktu, dan kesedihan, seringkali melalui adegan alam dan simbolisasi. Pada "Sebuah Rumah di Hari Tua," penulis merenungkan tentang perubahan dan kehilangan waktu, membandingkannya dengan perubahan alam dan keberadaan makhluk hidup. Puisi "Sabit Magribi" menggambarkan perjalanan seorang individu melalui waktu dan ruang, serta perubahan yang tak terelakkan. "Dance of Sarasvati" mengeksplorasi konsep kebebasan dan kreativitas, sementara "Segitiga" merujuk pada pilihan dan konsekuensinya dalam kehidupan. Puisi lainnya seperti "Rumah di Hari Tua 2" dan "Pengerahan Pasir" menggambarkan perasaan kesepian dan pengingat-pengingat masa lalu yang tak terlupakan. Buku ini tidak hanya sekadar kumpulan puisi, tetapi juga merupakan perjalanan jiwa penulis yang mencerminkan pengalaman pribadi dan pemikiran mendalam tentang kehidupan. Masing-masing puisi memberikan perspektif unik dan mendalam, membentuk gambaran yang kaya dan dinamis tentang kehidupan dan pengaruhnya terhadap diri manusia.
senja itu datang entah dari mana burung yang mati tak pergi ke surga di Siwalanpanji setiap kejadian meninggalkan gigitan Puisi puisi yang kutulis di buku ini berawal dari sebuah mimpi buruk Tahun 2016 di tengah perjalanan pulang ke Surabaya pukul 02 00 mimpi buruk itu mendatangiku kantorku terkubur lumpur lalu aku pergi ke sebuah kota di tengah malam di perjalanan itu kulihat orang orang membongkar seluruh rel kereta api Mimpi itu seperti firasat dua tahun berselang mimpi itu seakan menuju pintu kenyataan Mimpi buruk itu menjadikanku sulit tidur beberapa malam sesudahnya Aku tidak menuliskan hal hal fantastis ataupun filosofis Bagiku menulis puisi seakan membangkitkan iblis yang terkekang di dalam diriku kemarahan rasa terjajah dan ketidakberdayaan Aku hanya pion bukan nahkoda Maka iblis yang kulepas seperti tangan yang menarikku lepas dari kejatuhan Puisi adalah satu kakiku aku berdiri di atasnya agar aku tersadar bahwa tidak ada satu penjara yang bisa membungkamku