Buku ini berfokus pada peristiwa Talangsari 1989 yang menjadi momen trauma dan harapan bagi korban. Menulis karya puisi sebagai bagian dari Small Grants Program Staying Small Grants, Amir (Mahaduka Talangsari) melalui puisi mengeksplorasi isu-isu yang mendalam di balik peristiwa tersebut, termasuk isu-isu politik, kekerasan, dan upaya mencari keadilan. Dalam pengantarnya, Lutfi Yulisa memaparkan bahwa peristiwa Talangsari merupakan kejahatan kemanusiaan yang terkait dengan khawatir pemerintah orde baru terhadap naiknya pamor politik Islam. Pengantar ini juga menyoroti bagaimana kebijakan politik masa itu bermain dalam skala yang masif, termasuk peristiwa Tanjung Priok 1984, yang memperkuat keyakinan tentang ketakutan pemerintah terhadap "gerakan islam" yang dianggap ingin membangkitkan memori kelam pemberontakan PRRI/Permesta. Kontras mencatat korban peristiwa Talangsari mencapai hampir 182 orang dengan berbagai bentuk kekerasan. Buku ini bertujuan untuk memaparkan kisah-kisah korban dan membangkitkan semangat untuk mencari keadilan dan pemulihan bagi mereka.
Buku Talangsari 1989 Trauma dan Harpan Korban ditulis dengan fokus yang berbeda bukan pada sejarah tetapi kepada trauma yang dialami korban hingga kondisi terkini korban Setelah 34 tahun tragedi pembantaian Jemaah Warsidi dan warga sipil di Dusun Cihideung berlalu banyak korban yang belum bisa berdamai dengan pengalaman pahit terkait tragedi tersebut Buku ini menghadirkan banyak cerita dari sudut pandang para korban merincikan pengalaman mereka selama peristiwa Talangsari bagaimana mereka berjuang untuk bertahan hidup dengan beban trauma yang mereka rasakan serta harapan harapan mereka terhadap penyelesaian kasus Talangsari 1989
| Jumlah Halaman | 78 |
|---|---|
| Kategori | Sejarah |
| Penerbit | Bintang Semesta Media |
| Tahun Terbit | 2024 |
| ISBN | 978-623-190-764-6 |
| eISBN | 978-623-190-765-3 |