Buku ini menggali kehidupan senjata militer Indonesia, dari meriam-meriam tua yang masih dipakai hingga tantangan dalam mempertahankan operasional mereka. Dalam konteks ini, Jenderal Pramono Edhie Wibowo menekankan pentingnya perawatan senjata lama, termasuk meriam S-60, yang diproduksi Uni Soviet pada tahun 1950. Selain itu, buku ini juga membahas senjata lain yang lebih tua, seperti M101A1 105 milimeter (1940) dan M-48 76 milimeter (1958), yang masih digunakan dalam latihan angkatan darat. Berkat perawatan yang baik, senjata-senjata lama ini tetap beroperasi dan dipamerkan pada berbagai acara. Namun, buku ini juga mengajukan tantangan literasi nasional, berdasarkan survei yang menunjukkan peringkat Indonesia di bawah negara-negara ASEAN. Meski begitu, buku ini optimistis bahwa literasi dapat ditingkatkan melalui berbagai upaya, seperti program Duta Baca Indonesia dan pengembangan e-book yang dirancang khusus untuk smartphone. Pandangan ini dipadu dengan undang-undang hak cipta di Indonesia, yang menegaskan bahwa hak cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis. Pasal-pasal undang-undang tentang hak cipta juga menjelaskan tindakan pidana yang bisa diambil terhadap pelanggaran hak cipta, baik itu untuk penggunaan komersial maupun non-komersial. Cover belakang buku ini akan menampilkan berbagai senjata militer yang masih digunakan, diiringi oleh grafik atau diagram yang menunjukkan peringkat literasi nasional, dan elemen hukum yang berkaitan dengan hak cipta.
Pemerintah memodernkan peralatan militer secara bertahap Belanja senjata terus meningkat Sayangnya makelar masih banyak berperan dalam pembeliannya
| Jumlah Halaman | 108 |
|---|---|
| Kategori | Sosial |
| Penerbit | Tempo Publishing |
| Tahun Terbit | 2019 |
| ISBN | noisbn |
| eISBN | 978-623-262-693-5 |