Sinopsis Buku: Di Puncak Bukit Burake, kisah Lai’ dan keluarganya menggambarkan perjalanan hidup seorang anak perempuan Toraja yang berusaha melewati tantangan kehidupan dengan tekad dan semangat. Lai’ adalah seorang anak yang sangat pandai, namun karena kondisi ekonomi keluarganya yang sulit, ia tidak bisa melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Meski demikian, ia tidak menyerah. Dengan bantuan Ibu dan Piter, kakaknya, Lai’ berusaha keras untuk menabung hasil kerjanya agar suatu hari bisa menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Kisah ini juga menggambarkan kehidupan sehari-hari keluarga petani Toraja yang sederhana namun penuh semangat. Lai’ dan Piter terus bekerja keras, merawat ternak, menanam sayuran, dan menjaga kebersihan kandang. Di tengah kesibukan itu, mereka tetap menjaga hubungan keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Selain itu, kisah ini juga menghadirkan gambaran tentang kepercayaan mereka pada Tuhan yang selalu membuka jalan bagi mereka yang sabar dan tekun. Patung Yesus di puncak Bukit Burake menjadi simbol spiritual yang menginspirasi mereka dalam menghadapi segala tantangan hidup. Dengan latar belakang budaya Toraja yang khas, cerita ini tidak hanya menggambarkan perjuangan seorang anak perempuan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai keuletan, kerja keras, dan kepercayaan pada Tuhan. Buku ini menjadi pengingat bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan tekad dan kejujuran pasti akan membuahkan hasil yang baik.
Tiba tiba Makku menghentikan ucapannya menyuruh mereka untuk diam Lalu terdengar suara seperti orang yang sedang memukul mukul batang pohon Enau Seketika wajah mereka memucat dan segera berlari kencang meninggalkan sungai itu Setibanya di rumah mereka langsung rebah ke tanah karena kelelahan Wajah orang tua mereka memucat ketika mendengar cerita mereka dan melarang mereka agar tidak turun dari atas rumah hingga matahari terbit Pagi pagi mereka kembali ke sungai untuk memancing ikan Suasana begitu hening dan damai kemudian terdengar suara kemarahan dari tempat Pite dan Sean berada Pite segera meninggalkan tempat itu bersama Sean yang menangis seorang diri Lai dan Makku saling beradu pandang bingung dengan apa yang telah terjadi Pite jatuh sakit setelah mendengar keputusan Ambe Lai segera mencari Makku di rumahnya dan melihat orang tua Sean Hati Lal kecut berharap agar Sean segera meninggalkan kampung mereka dan melupakan kakaknya Makku mengunjungi Pite yang sakit samar samar terdengar suara teriakan Pak Balao sopir keluarga Ne Kamisi memanggil namanya Pak Balao menyuruh Makku agar segera ke bukit Burake menemui Sean Makku marah dan kecewa Pite mendengar percakapan mereka bersama keluarganya serta Ne Kamisi mereka berangkat ke tempat Sean berada Setibanya di sana terlihat Sean sedang berdiri di pinggir tebing dengan tatapan kosong Bersama Makku Pite menapaki tangga yang berjumlah seratus itu dengan sisa tenaganya untuk bicara dengan Sean Berhasilkah Pite membujuk Sean untuk meninggalkan bukit itu atau Sean memilih melompat dari atas tebing Lalu apa yang sebenarnya terjadi hingga Sean memilih untuk mengakhiri hidupnya
Jumlah Halaman | 159 |
---|---|
Kategori | Novel |
Penerbit | Deepublish |
Tahun Terbit | 2017 |
ISBN | 978-602-453-203-1 |
eISBN |